kutuliskan bait puisi rindu,
saat deras hujan hati,
ketika liuk jiwa melunglai, menyebut duka...
bait-bait itu tercipta tanpa kendali,
tanpa berpikir tuk menunduk,
aku terus menulis...
meski hanya menggoreskan kapur di atas kertas,
aku dapat membaca kata demi kata yang kubuat,..
mengulaskan sebuah gurat manis,
mungkinkah sekejap?
tak semua yang indah itu menyenangkan,
tegak melangkah,
menyusuri tiap ruang kosong,
hingga kutemukan sekeping cermin,
yang tampilkan sebentuk wajah,
wajah yang lelah... wajah yang lemah...
wajah yang bukan wajah orang lain...
tegakku melumpuh,
kuatku runtuh,
masa lalu itu datang,
jati diri pun turut mengusik,
mencerca senyum dan memaki bahagia,
namun mencintai air mata...
bentangan itu kian nyata,
muncul diantara tarikan nafas kalbu,
menyuarakan terikan-teriakan menyayat,
yang mengingatkanku pada satu hal,
kita.....berbeda.....








0 komentar:
Posting Komentar